welcome to my blog! --- selamat datang di blog saya! --- Wilkommen in meinem Blog! :)"it's all about girls, teenagers and their hearts❤️."

Thursday, June 19, 2014

Seorang Kakek Tua

Aku selalu bertemu seorang kakek tua ketika berangkat dan pulang sekolah.
Siapa namanya, di mana ia tinggal, berapa umurnya, aku bahkan tidak tahu.
Kalau kutebak, umurnya kurang lebih 65 tahun. Mungkin, pensiun tahun depan.
Kakek itu mempunyai rambut di pinggir kepalanya, sedangkan bagian atas kepalanya dibiarkan tidak berambut. Rambutnya tidak lagi hitam-atau mungkin coklat, atau mungkin pirang.
Kadang aku suka berpikir, di musim panas seperti ini, mengapa ia tidak mengenakan topi saja, karena kepalanya yang hampir tidak tertutupi oleh rambut saja bisa merusak kulitnya yang mengeriput.
Kakek tua itu selalu mengenakan jaket tipis berwarna coklat muda, dan selalu jaket itu yang aku lihat. Saat musim dingin, aku berpikir, apakah ia tidak kedinginan, dengan jaket setipis itu?
Kakek itu selalu mengenakan kacamata yang terbuat dari kaca hipertropi, seperti orang tua lainnya.
Kakek ini selalu menaiki bus dan kereta yang sama denganku, ketika aku hendak berangkat ke sekolah.
Ia selalu naik bus dari halte stasiun utama, dan turun di halte bus yang dekat dengan perindustrian di daerah itu.
Aku suka mengamati orang-orang yang turun di halte perindustrian itu. Semuanya sejenis.
Maksudku dengan sejenis, adalah mereka sama-sama orang dewasa, yang memiliki kelebihan. Sekitar kurang lebih 4 yang kuperhatikan, memiliki gejala yang sama: Mata yang agak kecil, gerakannya yang agak lamban, penglihatannya yang tidak fokus pada satu pandangan, garis tangan  yang tidak sampai ke tengah jari telunjuk dan tengah…
Kalau kudiagnosa,  hampir semua orang yang turun di halte itu memiliki kelebihan yang sama.
Kelebihan ini terjadi ketika mereka masih berada dalam kandungan ibu mereka. Kromosom nomor 21 mereka tidak sepasang; melainkan menjadi 3. Mereka mendapat satu kromosom nomor 21 yang lebih, dan biasanya datang dari seorang ibu.
Ini menyebabkan mereka mengalami penyakit yang disebut Down-Syndrom.
Yang menjadi pertanyaan adalah,
Mengapa kakek tua ini selalu turun di halte ini?
Apakah dia bekerja di perindustrian itu?
Apakah itu industri khusus yang mempunyai pekerja khusus?
Setelah berbulan-bulan aku perhatikan… kakek tua ini mempunyai rahang bawah yang agak miring dari manusia pada normalnya. Mungkin agak susah baginya, untuk berbicara dengan orang lain, keluarganya, anaknya…
Kakek ini selalu terlihat tidak sebersih orang yang lainnya, yang membuat orang lain pun jijik dengannya.
Kakek ini mempunyai badan yang agak bungkuk dari yang lainnya, bahkan ketika ia berjalan, agak susah baginya untuk berlari mengejar bus yang datang terlalu tepat pada waktunya.
Kakek tua ini selalu mengenakan celana jeans biru muda yang agak longgar baginya, dan, sama seperti pakaian atas yang ia kenakan, terlihat seperti tidak pernah diganti olehnya.
Mama pernah berkata, di halte tempat si kakek yang tidak pernah aku ceritakan padanya memang ada industri, dan biasanya, pabrik-pabrik di perindustrian itu memperkerjakan orang-orang yang berkekurangan dalam… fisik.
Mereka memperkerjakan orang-orang seperti itu karena pekerja-pekerja itupun akan di”terapi” oleh pabrik tersebut dan akan dibayar murah olehnya.
I wonder if that old man works in that factory for the rest of his life. How would his life going? What if he is alone, or maybe he has a wife who needs his money for their life?
Hari ini, seperti biasanya, aku bertemu lagi dengan kakek tua itu. Aku melihatnya dari kaca bus yang aku tumpangi. Ia berjalan tertatih-tatih mengejar bus yang aku tumpangi. Dengan berbaik hati, si supir bus membukakan pintu depan yang tadinya sudah tertutup.
Hari ini cuacanya cukup panas. Matahari bersinar terik, tapi udara dingin sesekali berhembus. Hari ini cukup banyak orang yang menaiki bus pada jam 4:07 sore, sehingga bus yang aku tumpangi cukup ramai. Tidak sedikit orang yang tidak kebagian tempat duduk. Beruntungnya aku, aku mendapat tempat duduk.
Kakek tua itu berdiri di sampingku. Aku merasa kasihan, ingin sekali aku tegur tapi aku malu.
Akhirnya, aku memberanikan menepuk punggungnya yang bungkuk itu. Lalu ia menoleh pelan.
“Wollen Sie hier sitzen? (Maukah anda duduk di sini?)” kataku pelan.
“Ach, ne. (Ah tidak usah.)” katanya lembut.
“Bitteschön. (Silahkan)” kataku dengan berdiri cepat. Ia menatapku, tersenyum, dan duduk di tempat dudukku yang kutinggalkan untuknya.
Senang rasanya membantu orang lain, terutama anak kecil, atau orang tua.
Akhirnya bus yang aku tumpangi sampai di stasiun utama. Dengan langkah yang cepat, aku melihat jadwal keberangkatan kereta. Kereta yang akan kutumpangi datang satu menit lagi. Seperti di dalam bus, banyak orang hari ini yang menaiki kereta, sehingga aku harus bergerak cepat jika ingin mendapat tempat duduk.
Aku beruntung karena aku mendapat tempat duduk di gerbong paling depan, dekat dengan jendela, karena aku suka melihat pemandangan sore hari di luar.
Kakek yang kutolong tadi duduk di depanku. Mungkin ia tidak menyadari kalau aku ada di belakangnya.
Kereta yang kutumpangi mulai menutup pintu-pintunya. Namun, datang seorang kakek tua lain yang memiliki kulit lebih coklat, dengan tertatih-tatih mengejar kereta yang kutumpangi. Si kakek yang baru masuk itu kelihatan lebih muda daripada kakek yang kutolong di bus tadi. Dengan sigap, kakek yang kutolong di bus tadi berdiri dan menawarkan tempat duduk kepada kakek yang baru masuk tadi.
Betapa mulianya hati kakek itu. Kebaikan ternyata memang bisa menular kepada siapapun.
Kakek itu tidak peduli berapa umurnya, apa latar belakangnya, dan betapa bergetar kakinya ketika ia berdiri lama, tapi ia menolong kakek itu dan merelakan dirinya tidak mendapatkan tempat duduk.
And then, I started to miss my Grandpa. He is passed away on 16th May 2011. It’s been 3 years, I haven’t seen him.
I wonder how happy he is now, because he always stressed in our house.
It happened every time when he cleaned the house and I was a little child. I was only a child and my feet weren’t always clean. Sometimes I bring dirt to our house, and that made him really unhappy.
He always yelled at me, and I always yelled at him. I always told him I hate him and I just wanted him to die. I told him, maybe he’ll shut up when he died. And it happens now. I never see him cleaning the house again. I never hear he’s yelling again.
And I miss that.
I miss him.
And it makes me crying right now.
I wonder how my children would treat my dad in the future, and I wonder how my grandchildren treat me and my husband in the future. I wonder how annoying would it be to have a dirt in a house which I cleaned 5 minutes ago.
Maybe in that time, I would feel how my grandpa felt.
I wish I have a good time when I have a children and grandchildren because that would be my “tired time”.
I never even thought I would miss my grandpa if he is gone. But I realized that my grandpa was always alone the almost every time. And I feel bad about it. I’m the worst granddaughter ever. And when he is passed away, I cried a lot, and it was difficult to stop.


Ternyata, di dunia yang tidak pernah adil ini, masih banyak orang-orang yang baik dan mulia hatinya. Kalau kamu beruntung, mungkin kamu akan bertemu dengan orang-orang itu. Jika kamu tidak bertemu dengan orang-orang itu, cobalah menjadi salah satu dari mereka.