welcome to my blog! --- selamat datang di blog saya! --- Wilkommen in meinem Blog! :)"it's all about girls, teenagers and their hearts❤️."

Wednesday, July 4, 2012

Kisah Seorang Gembala dan Nabi Musa AS

Pada zaman dahulu, hidup seorang gembala yang bersemangat bebas. Dia tidak punya uang dan tidak punya keinginan untuk memilikinya. Yang dia miliki hanyalah hati yang lembut dan penuh keikhlasan; hati yang berdetak dengan kecintaan Tuhan. Sepanjang hari dia menggembalakan ternaknya melewati lembah dan ladang melagukan jeritan hatinya kepada Tuhan yang dicintainya. "Duhai Pangeran tercinta, di manakah Engkau, supaya aku bisa persembahkan seluruh hidupku pada-Mu? Wahai Tuhan,  untuk-Mu aku hidup dan bernapas. Karena berkat-Mu aku hidup. Aku ingin mengorbankan dombaku ke hadapan kemuliaan-Mu."
Suatu hari, Nabi Musa a.s. melewati padang gembalaan tersebut dalam perjalanannya menuju kota. Ia memerhatikan sang gembala yang sedang duduk di tengah ternaknya dengan kepala yang mendongak ke langit. Sang gembala menyapa Tuhan, "Ah, dimanakah Engkau, supaya aku bisa menjahit baju-Mu, memperbaiki kasut-Mu, dan mempersiapkan ranjang-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku bisa menyisir rambut-Mu dan mencium kaki-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku bisa mengilapkan sepatu-Mu dan membawakan air susu untuk minum-Mu?"
Musa mendekati gembala itu dan bertanya, "Dengan siapa kamu berbicara?" gembala menjawab, "Dengan Dia yang menciptakan kita. Dengan Dia yang menjadi Tuhan yang menguasai siang dan malam, bumi dan langit." Musa murka mendengar jawaban gembala itu, "Betapa beraninya kamu berbicara kepada Tuhan seperti itu! Apa yang kamu ucapkan adalah kekafiran. Kamu harus menyumpal mulutmu dengan kapas supaya kamu bisa mengendalikan lidahmu. Atau paling tidak, orang yang mendengarmu tidak menjadi marah dan tersinggung dengan kata-katamu yang telah meracuni seluruh angkasa ini. Kau harus berhenti berbicara seperti itu sekarang juga karena nanti Tuhan akan menghukum seluruh penduduk bumi ini akibat dosa-dosamu!"
Sang gembala segera bangkit setelah mengetahui bahwa yang mengajaknya bicara adalah seorang Nabi. Dia bergetar ketakutan. Dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya, dia mendengarkan Musa yang terus berkata, "Apakah Tuhan adalah seorang manusia biasa, sehingga dia harus memakai sepatu dan kaus kaki? Apakah Tuhan seorang anak kecil, yang memerlukan susu supaya dia tumbuh besar? Tentu saja tidak. Tuhan Mahasempurna di dalam diri-Nya. Tuhan tidak memerlukan siapapun. Dengan berbicara kepada Tuhan seperti yang telah engkau lakukan, engkau bukan saja telah merendahkan dirimu, tapi kau juga merendahkan seluruh ciptaan Tuhan. Kau tidak lain dari seorang penghujat agama. Ayo, pergi dan minta maaf, kalau kau masih memiliki otak yang sehat!"
Gembala yang sederhana itu tidak mengerti bahwa apa yang dia sampaikan kepada Tuhan adalah kata-kata yang kasar. Dia juga tak mengerti mengapa Nabi yang mulia telah memanggilnya sebagai seorang musuh, tapi dia tahu betul bahwa seorang Nabi pasti lebih mengetahui dari siapa pun. Dia hampir tak bisa menahan tangisannya. Dia berkata kepada Musa, "Kau telah menyelangkan api di dalam jiwaku. Sejak ini aku berjanji akan mengatupkan mulutku untuk selamanya." Dengan keluhan yang panjang, ia berangkat meninggalkan ternaknya menuju padang pasir.
Dengan perasaaan bahagia karena telah meluruskan jiwa yang tersesat, Nabi Musa a.s. melanjutkan perjalanannya menuju kota. Tiba-tiba Allah yang Maha kuasa menegurnya, "Mengapa engkau berdiri diantara kami dengan kekasih kami yang setia? Mengapa engkau pisahkan pecinta dari yang dicintainya? Kami telah mengutus engkau supaya engkau bisa menggabungkan kekasih dengan kekasihnya, bukan memisahkan ikatan diantaranya." Musa mendengarkan kata-kata langit itu dengan penuh kerendahan dan rasa takut. Tuhan berfirman, "Kami tidak menciptakan dunia supaya kami memperoleh keuntungan darinya. Seluruh makhluk diciptakan untuk kepentingan makhluk itu sendiri. Kami tidak membutuhkan pujian atau sanjungan. Kami tidak memerlukan ibadah atau pengabdian. Orang-orang yang beribadah itulah yang mengambil keuntungan dari ibadah yang mereka lakukan. Ingatlah bahwa di dalam cinta, kata-kata hanyalah bungkus luar yang tidak memiliki makna apa-apa. Kami tidak memerhatikan keindahan kata-kata atau komposisi kalimat. Yang kami perhatikan adalah lubuk hati yang paling dalam dari orang itu. Dengan cara itulah kami mengetahui ketulusan makhluk kami, walaupun kata-kata mereka bukan kata-kata yang indah. Buat mereka yang dibakar dengan api cinta, kata-kata tidak mempunyai makna."
Suara dari langit selanjutnya berkata "Mereka yang terikat dengan basa-basi bukanlah mereka yang terikat dengan cinta. Dan umat yang beragama bukanlah umat yang mengikuti cinta. Karena cinta tidak mempunyai agama selain kekasihnya sendiri." Tuhan kemudian mengajarkan Musa rahasia cinta.
Setelah Musa memperoleh pelajaran itu, dia mengerti kesalahannya. Sang Nabi pun menderita penyesalan yang luar biasa. Dengan segera, dia berlari mencari gembala itu untuk meminta maaf. Berhari-hari Musa berkelana di padang rumput dan gurun pasir, menanyakan kepada orang-orang apakah mereka mengetahui gembala yang dicarinya. Setiap orang yang ditanyainya menunjuk kearah yang berbeda. Hampir-hampir Musa kehilangan harapan, tetapi akhirnya Musa berjumpa dengan gembala itu. Dia tengah duduk di dekat mata air. Pakaiannya compang camping, rambutnya kusut masai. Ia berada di tengah tafakur yang dalam sehingga tidak memperhatikan Musa yang telah menunggunya cukup lama.
Akhirnya, gembala itu mengangkat kepalanya dan melihat kepada sang Nabi. Musa berkata, "Aku punya pesan penting untukmu. Tuhan telah berfirman kepadaku bahwa tidak diperlukan kata-kata yang indah jika kita ingin berbicara kepada-Nya. Kamu bebas berbicara kepada-Nya dengan cara apapun yang kamu sukai, dengan kata-kata apapun yang kamu pilih. Karena apa yang aku duga sebagai kekafiranmu ternayata adalah ungkapan dari keimanan dan kecintaan yang menyelamatkan dunia." Sang gembala hanya menjawab sederhana, "Aku sudah melewati tahap kata-kata dan kalimat. Hatiku sekarang dipenuhi dengan kehadiran-Nya. Aku tak dapat menjelaskan keadaanku padamu dan kata-kata pun tak bisa melukiskan pengalaman ruhani yang ada dalam hatiku." Kemudian ia bangkit dan meninggalkan Musa.
Nabi Musa menatap gembala itu sampai ia tak terlihat lagi. Setelah itu Musa kembali berjalan ke kota terdekat, merenungkan palajaran berharga yang didapatnya dari seorang gembala sederhana yang tidak berpendidikan.
Cerita tersebut melukiskan kepada kita bahwa ada sekelompok orang yang mengambil cinta sebagai agamanya. Kalau seseorang telah meledakkan kecintaannya kepada Tuhan, dia tidak bisa lagi menemukan kata-kata  yang tepat untuk melukiskan seluruh kecintaannya kepada Allah SWT.

 
Di dalam cinta, kata-kata tidak mempunyai makna.

 
Dari kisah ini juga kita belajar bahwa untuk bisa mendekati Allah SWT, tidak diperlukan kecerdasan yang tinggi atau ilmu yang sangat mendalam. Salah satu cara utama untuk mendekati Tuhan adalah hati yang bersih dan tulus. Tidak jarang pengetahuan kita tentang syariat membutakan kita dari Tuhan. Tidak jarang ilmu menjadi hijab yang menghalangi kita dengan Allah SWT.
Nabi SAW bersabda, "Innalāha lā yanzhuru ilā shuwarikum walakinallāha yanzhuru ilā qulūbikum. Ketahuilah sesungguhnya Tuhan tidak memerhatikan bentuk-bentuk luar kamu. Yang Tuhan perhatikan adalah hati kamu." []

 

 

Sumber: Buku Road To Allah, karangan Jalalludin Rahmat

Saturday, June 30, 2012

Setan atau Malaikat?

Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya.
Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang berlalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau, dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?
Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tak masuk.
Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk.
Tapi, mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi di zaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah?
Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya.
Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi, saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk sekompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul.
Tiba-tiba, anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi, anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.
Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu. Tiba-tiba, di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang di simpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.
Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang.
Lama saya meilhat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tidak lebih dari sebuah dongeng?
Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini:

Ibu yang baik, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya.
Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apasaya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi, yang membuat saya sakit hati, bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.
Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras.
Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja berjualan koran, saya juga membantu mencuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya mengamen.
Tapi, uang yang pas-pasan itu (emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga bakal di ganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini, belum pernah tebakan bapak tepat. Lagi pula, emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.
Ketika bapak semakin sering meminta uang kepada emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir bapak. Dan begitu bapak memukul, saya membalasnya sampai bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya?
Saat emak sakit dan bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah dimana, tidak peduli. Hampir saya memukulnya lagi.
Di jalan, saat saya berjualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi, orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali menelepon dengan HP. Dan di seberang halte itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan.
Maka tekad saya, emak harus ke dokter. Karena dari berjualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet. Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan dengan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.
Saya segera mendatangi emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Bu, emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya mendapatkan uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya atau meminjam dari teman. Tapi, saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.
Di pipi keriputnya, mengalir butir-butir air. Emak menangis. Bu, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya menjadi pencuri. Tidak peduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak peduli kepada saya. Tapi, saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf.

Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap halte tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi, anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapa pun yang berada di halte tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.
Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya. Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja.
Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merek terkenal seharga jutaan, dan sebagainya.
Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi, saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dibantu Bi Nia, lebih dari seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan, dan pengamen yang banyak di setiap halte.
Di halte terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir di mata saya. Yuni menghampiri saya dan bilang, “Mama, saya bangga jadi anak Mama.”
Dan, saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.


sumber: Buku Kisah Keluarga Tikus, karangan Vanny Chrisma W.