welcome to my blog! --- selamat datang di blog saya! --- Wilkommen in meinem Blog! :)"it's all about girls, teenagers and their hearts❤️."

Thursday, June 19, 2014

Seorang Kakek Tua

Aku selalu bertemu seorang kakek tua ketika berangkat dan pulang sekolah.
Siapa namanya, di mana ia tinggal, berapa umurnya, aku bahkan tidak tahu.
Kalau kutebak, umurnya kurang lebih 65 tahun. Mungkin, pensiun tahun depan.
Kakek itu mempunyai rambut di pinggir kepalanya, sedangkan bagian atas kepalanya dibiarkan tidak berambut. Rambutnya tidak lagi hitam-atau mungkin coklat, atau mungkin pirang.
Kadang aku suka berpikir, di musim panas seperti ini, mengapa ia tidak mengenakan topi saja, karena kepalanya yang hampir tidak tertutupi oleh rambut saja bisa merusak kulitnya yang mengeriput.
Kakek tua itu selalu mengenakan jaket tipis berwarna coklat muda, dan selalu jaket itu yang aku lihat. Saat musim dingin, aku berpikir, apakah ia tidak kedinginan, dengan jaket setipis itu?
Kakek itu selalu mengenakan kacamata yang terbuat dari kaca hipertropi, seperti orang tua lainnya.
Kakek ini selalu menaiki bus dan kereta yang sama denganku, ketika aku hendak berangkat ke sekolah.
Ia selalu naik bus dari halte stasiun utama, dan turun di halte bus yang dekat dengan perindustrian di daerah itu.
Aku suka mengamati orang-orang yang turun di halte perindustrian itu. Semuanya sejenis.
Maksudku dengan sejenis, adalah mereka sama-sama orang dewasa, yang memiliki kelebihan. Sekitar kurang lebih 4 yang kuperhatikan, memiliki gejala yang sama: Mata yang agak kecil, gerakannya yang agak lamban, penglihatannya yang tidak fokus pada satu pandangan, garis tangan  yang tidak sampai ke tengah jari telunjuk dan tengah…
Kalau kudiagnosa,  hampir semua orang yang turun di halte itu memiliki kelebihan yang sama.
Kelebihan ini terjadi ketika mereka masih berada dalam kandungan ibu mereka. Kromosom nomor 21 mereka tidak sepasang; melainkan menjadi 3. Mereka mendapat satu kromosom nomor 21 yang lebih, dan biasanya datang dari seorang ibu.
Ini menyebabkan mereka mengalami penyakit yang disebut Down-Syndrom.
Yang menjadi pertanyaan adalah,
Mengapa kakek tua ini selalu turun di halte ini?
Apakah dia bekerja di perindustrian itu?
Apakah itu industri khusus yang mempunyai pekerja khusus?
Setelah berbulan-bulan aku perhatikan… kakek tua ini mempunyai rahang bawah yang agak miring dari manusia pada normalnya. Mungkin agak susah baginya, untuk berbicara dengan orang lain, keluarganya, anaknya…
Kakek ini selalu terlihat tidak sebersih orang yang lainnya, yang membuat orang lain pun jijik dengannya.
Kakek ini mempunyai badan yang agak bungkuk dari yang lainnya, bahkan ketika ia berjalan, agak susah baginya untuk berlari mengejar bus yang datang terlalu tepat pada waktunya.
Kakek tua ini selalu mengenakan celana jeans biru muda yang agak longgar baginya, dan, sama seperti pakaian atas yang ia kenakan, terlihat seperti tidak pernah diganti olehnya.
Mama pernah berkata, di halte tempat si kakek yang tidak pernah aku ceritakan padanya memang ada industri, dan biasanya, pabrik-pabrik di perindustrian itu memperkerjakan orang-orang yang berkekurangan dalam… fisik.
Mereka memperkerjakan orang-orang seperti itu karena pekerja-pekerja itupun akan di”terapi” oleh pabrik tersebut dan akan dibayar murah olehnya.
I wonder if that old man works in that factory for the rest of his life. How would his life going? What if he is alone, or maybe he has a wife who needs his money for their life?
Hari ini, seperti biasanya, aku bertemu lagi dengan kakek tua itu. Aku melihatnya dari kaca bus yang aku tumpangi. Ia berjalan tertatih-tatih mengejar bus yang aku tumpangi. Dengan berbaik hati, si supir bus membukakan pintu depan yang tadinya sudah tertutup.
Hari ini cuacanya cukup panas. Matahari bersinar terik, tapi udara dingin sesekali berhembus. Hari ini cukup banyak orang yang menaiki bus pada jam 4:07 sore, sehingga bus yang aku tumpangi cukup ramai. Tidak sedikit orang yang tidak kebagian tempat duduk. Beruntungnya aku, aku mendapat tempat duduk.
Kakek tua itu berdiri di sampingku. Aku merasa kasihan, ingin sekali aku tegur tapi aku malu.
Akhirnya, aku memberanikan menepuk punggungnya yang bungkuk itu. Lalu ia menoleh pelan.
“Wollen Sie hier sitzen? (Maukah anda duduk di sini?)” kataku pelan.
“Ach, ne. (Ah tidak usah.)” katanya lembut.
“Bitteschön. (Silahkan)” kataku dengan berdiri cepat. Ia menatapku, tersenyum, dan duduk di tempat dudukku yang kutinggalkan untuknya.
Senang rasanya membantu orang lain, terutama anak kecil, atau orang tua.
Akhirnya bus yang aku tumpangi sampai di stasiun utama. Dengan langkah yang cepat, aku melihat jadwal keberangkatan kereta. Kereta yang akan kutumpangi datang satu menit lagi. Seperti di dalam bus, banyak orang hari ini yang menaiki kereta, sehingga aku harus bergerak cepat jika ingin mendapat tempat duduk.
Aku beruntung karena aku mendapat tempat duduk di gerbong paling depan, dekat dengan jendela, karena aku suka melihat pemandangan sore hari di luar.
Kakek yang kutolong tadi duduk di depanku. Mungkin ia tidak menyadari kalau aku ada di belakangnya.
Kereta yang kutumpangi mulai menutup pintu-pintunya. Namun, datang seorang kakek tua lain yang memiliki kulit lebih coklat, dengan tertatih-tatih mengejar kereta yang kutumpangi. Si kakek yang baru masuk itu kelihatan lebih muda daripada kakek yang kutolong di bus tadi. Dengan sigap, kakek yang kutolong di bus tadi berdiri dan menawarkan tempat duduk kepada kakek yang baru masuk tadi.
Betapa mulianya hati kakek itu. Kebaikan ternyata memang bisa menular kepada siapapun.
Kakek itu tidak peduli berapa umurnya, apa latar belakangnya, dan betapa bergetar kakinya ketika ia berdiri lama, tapi ia menolong kakek itu dan merelakan dirinya tidak mendapatkan tempat duduk.
And then, I started to miss my Grandpa. He is passed away on 16th May 2011. It’s been 3 years, I haven’t seen him.
I wonder how happy he is now, because he always stressed in our house.
It happened every time when he cleaned the house and I was a little child. I was only a child and my feet weren’t always clean. Sometimes I bring dirt to our house, and that made him really unhappy.
He always yelled at me, and I always yelled at him. I always told him I hate him and I just wanted him to die. I told him, maybe he’ll shut up when he died. And it happens now. I never see him cleaning the house again. I never hear he’s yelling again.
And I miss that.
I miss him.
And it makes me crying right now.
I wonder how my children would treat my dad in the future, and I wonder how my grandchildren treat me and my husband in the future. I wonder how annoying would it be to have a dirt in a house which I cleaned 5 minutes ago.
Maybe in that time, I would feel how my grandpa felt.
I wish I have a good time when I have a children and grandchildren because that would be my “tired time”.
I never even thought I would miss my grandpa if he is gone. But I realized that my grandpa was always alone the almost every time. And I feel bad about it. I’m the worst granddaughter ever. And when he is passed away, I cried a lot, and it was difficult to stop.


Ternyata, di dunia yang tidak pernah adil ini, masih banyak orang-orang yang baik dan mulia hatinya. Kalau kamu beruntung, mungkin kamu akan bertemu dengan orang-orang itu. Jika kamu tidak bertemu dengan orang-orang itu, cobalah menjadi salah satu dari mereka.

Friday, May 2, 2014

Dear My Future Husband



Dear my future husband,
Whoever you are, aku harap kamu baik-baik aja sekarang.
Hai.
Namaku Caca.
Kita udah pernah ketemu belom ya? Atau kamu masih disimpen Allah?
Aku harap bisa ketemu kamu secepatnya, soalnya aku mau cerita banyaaaaak banget.
Eh tapi… aku juga mau kamu kamu disimpen Allah lebih lama supaya aku bisa perbaiki diri aku sendiri, karena aku sendiri juga belom bener kok, hehe.
Aku harap kamu orang Indonesia, supaya kamu bisa ngerti apa yang aku tulis.
Aku harap kamu beragama Islam, supaya kamu bisa imamin aku setiap subuh dan isya, kalau kita ketemu di rumah.
Aku orang Indonesia, mamaku asli orang Makassar, papaku asli orang Palembang, dan aku lahir di Jakarta. Tapi sekarang aku tinggal di luar negeri; Jerman, dengan alasan papa dan mamaku cerai dan aku ikut mamaku yang udah nikah lagi sama orang Jerman.

Dear my future husband,
Aku harap kamu orangnya lucu, karena aku suka banget sama pria yang kocak, tapi juga dewasa.
Kamu mesti tau kalo aku ketawa suka gak tau diri, hehe.
Aku suka sama anak kecil, aku mau punya anak banyak, lho.
Tapi, gak banyak-banyak amat juga, soalnya aku suka ngeri kalo liat orang lahiran.
Coba tebak aku mau punya anak berapa.




Tiga.




Banyak ya? Kalo kita tinggal diluar negeri kayaknya kita bisa kena pajak tuh punya anak tiga hehehe.
Aku harap anak pertama dan kedua kita cowok, dan yang ketiga cewek. Supaya abang-abangnya bisa jagain adeknya.
Tapi yang terpenting, aku harap kita bisa ngedidik mereka jadi anak-anak yang baik, pinter, soleh dan solehah.

Dear my future husband,
Aku harap kamu orangnya sabar banget, karena aku orangnya suka emosian.
Kedua orangtua kandungku juga emosian. Aku rasa, aku punya watak yang keras begini dari mereka.
Mama pernah bilang, kalo aku udah nemuin laki-laki yang benar-benar aku cinta, aku akan ngelakuin apa aja buat dia, ngilangin sifat buruk aku demi dia, karena dia adalah pelengkap aku.
Ibaratkan aku pancake,
kamu sirup maple-nya. Manis, cocok dan sangat serasi kalo dipadu sama aku.

Dear my future husband,
Aku bisa masak, tapi gak jago-jago amat.
Maafin ya, kalo setiap hari nanti aku suka ngedumel gak jelas, masakannya kurang enak, bajunya ada yang belum dicuci atau disetrika, karena aku punya tangan cuma dua, gak kayak Spongebob pas jadi ibu rumah tangga tangannya ada banyak.

Dear my future husband,
Aku mau kalo tidur setiap hari dipeluk. Kalo kamu gak mau ya gakpapa, tapi aku suka dipeluk. Soalnya kalo dipeluk rasanya angeeet banget.
Oh ya, kalo kamu ngefollow twitter aku,
Coba kamu scroll-scroll ke bawah.
Aku pernah ngetwit gini:
„I’m that kind of person who can laugh all the day but also crying all the night.“
Yaa kurang lebih begitu ya, hehe.
Aku suka begitu, kamu mungkin bisa liat aku ketawa di pagi atau siang atau sore hari.
Tapi kamu bisa liat aku nangis semaleman karena hal-hal yag gak penting; sakit perut karena lagi dapet lah, atau karena tadi siang liat kakek-kakek ngemis lah (aku gak kuat kalo begini, serius), atau karena perkataan orang yang nyakitin buat aku tadi pagi yang aku simpen dalem hati.

Dear my future husband,
Aku harap kamu bisa jadi tempat tampungan semua curhatanku, karena aku juga pastinya bakalan nampung curhatan kamu.
Aku harap gak ada yang kamu tutup-tutupin dari aku nantinya, karena Allah emang udah nge-iya-in kita buat tinggal bersama.
Aku mau bantu kamu nyelesain masalah-masalah kamu, entah dari kantor atau dari lingkungan sosial kamu.

Dear my future husband,
Aku mau keliling dunia bareng kamu, kalo bisa sih pas honeymoon aja hehehe.
Tapi kalo kamu tipe orang yang gak begitu suka pergi-pergian, kita honeymoon di rumah juga jadi, kok! Kita bisa nonton film atau main kartu, kita bikin suasananya senyaman mungkin.

Dear my future husband,
Aku pernah pacaran enam kali. Bahkan sekarang aku punya pacar, yang aku gaktau juga kalo siapa tau dia itu adalah kamu.
Dari semua mantan-mantan pacarku, semuanya gak ada yang bener menurut aku. Sifatnya semua bertolak belakang dari aku.
Semuanya bilang „Aku mau nikahin kamu“, tapi gak ada yang bener-bener sesungguh kamu.
Dear my future husband,
Aku bener-bener gak sabar dan kepo banget, gimana nanti cara kamu ngelamar aku, entah kamu ngelamar di depan orang banyak, atau cuma di kondisi pas ada aku sama kamu aja.
Aku harap, pas kita lagi berdua aja, supaya lebih privat, hehehe.
Tapi terserah kamu juga sih, caranya gimana dan di kondisi yang kayak apa.
Yang jelas jangan khawatir karena aku bakalan jawab „Iya“

Dear my future husband,
Kalo kamu sakit, jangan khawatir. Karena aku bakalan ngerawat kamu dan ngejagain kamu sepanjang malam kalo kamu kenapa-kenapa.
Aku mau masakin kamu tengah malem kalo kamu laper, karena aku gamau, kamu udah sakit malah ditambah laper.
Aku juga usahain setiap hari menu makanan kita yang sehat-sehat.

Dear my future husband,
Jangan ngerokok yah..
Karena aku sayang kamu. Orangtua, saudara (kalo kamu punya), dan anak-anak kamu juga sayang sama kamu. Mereka pasti takut kamu kenapa-kenapa.
By the way, aku paling gak suka sama asap rokok.
Aku suka batuk-batuk kalo ada asap rokok.
Kalo kamu suka ngerokok, pastinya kan kamu bau rokok,
Tapi karena kita udah suami-istri, pasti jadi bareng-bareng terus dong,
Mungkin aku bisa tahan napas kalo lagi deket kamu, karena bau rokok.
Usahain jangan bau rokok terus ya,
manusia butuh oksigen soalnya buat bernapas, hehehe.

Dear my future husband,
I’m that kind of person who set alarm early in the morning, but get up 30 minutes later.
Kalo kamu mau bangun jam 4, aku set alarmnya jadi jam setengah 4, jadi kalo mau bangun pagi-pagi, bilang aja ya jam berapa, jangan bilang “Pasang alarm jam 4”, karena kita bisa bangun jam setengah 5.

Aku mau bangunin kamu tiap pagi buat solat subuh berjamaah,
Pasti lebih seru lagi kalo berjamaahnya sama anak-anak kita.
Oh ya, sekarang aku belum berjilbab.
Gak tau kenapa, tapi aku pengen banget berjilbab.
Aku tau ini salah, masih suka mamerin aurat ke orang lain selain kamu dan keluargaku,
tapi imanku belum cukup kuat..
To be honest, kamu tau kan aku tinggal di luar negeri, yang tepat banget di kotaku ini banyak banget orang Arabnya. Orang sini tuh suka risih sama mereka yang berkerudung hitam dan panjang dan bercadar, dan itu yang bikin aku takut untuk berjilbab, dan aku tau perasaan itu salah, karena seharusnya aku cuma takut sama Allah…
Aku harap kamu bisa jadi pelengkap dan pelurus aku nantinya, yang nguatin aku dan selalu mendukung aku buat berjilbab, karena kamu harus tau;
Aku mau banget berjilbab.

Dear my future husband,
di sini udah jam setengah dua belas lewat satu menit…
udah hamper tengah malem, ya.
Aku udah mulai ngantuk nih, dan tidur sendirian pula, gak ada kamu yang lagi entah di mana
Aku harap kamu selalu dilindungi Allah ya :)

Well,
segini dulu ya suratnya…
kalo kita udah ketemu, aku bakalan cerita lebih banyaaaaaaakkk lagi tentang kehidupan aku.
Jangan lupa siapin cerita juga karena aku selalu siap dengerin kamu :)
Sampai ketemu di hari yang akan datang, ya!








Salam kangen,

Your future wife.

Friday, January 31, 2014

AMP

Selamat malam pembaca Blogger :-)
Long time no see, ya! belakangan ini gue sibuk mengurusi surat perpindahan di sana-sini, entah di sekolah atau di Kedutaan. Oh ya, jfyi, gue udah gak tinggal di Indonesia lagi. Kali ini gue tinggal di sebuah negara di Eropa, salah satu negara dengan pendidikan terbaik di dunia, dan biasa jadi tujuan pertama orang untuk mengejar gelar master atau pergi kuliah.



Iya, Jerman.



The first thing because my beloved mother had found her true love with Deutschen, and they got married since 3 years ago. So, she moved to Germany 3 years ago and she want me to live with her in Germany.
The second thing, I'm in 50:50 because I think I can't do it, I'm not ready, I don't want to meet and learn new things. I love living in Jakarta. Went to one of the best school in Jakarta, hang out with my friends, and I just want to do my daily activity, as usual.
But in the other side, I want to a better life and a better future. I want a better school and I want a better university. I wanna be smarter and I love learning foreign language. I was just thinking, I can meet new friends and maybe I can have a long-summer-holiday in Indonesia, and meet my Indonesian friends, if I'm lucky.
The third thing, the hardest thing ever, is leaving my boyfriend.
His name is.. well let's just say 'AMP'. That's his initial.

Pada postingan sebelumnya, 'Kisah Cinta yang Rumit', gue pernah ngepost kalo gue suka sama cowok yang namanya well let's just say 'Rama', but it's not his real name. Sebulan setelah gue ngeposting tentang kisah cinta gue yang rumit itu, gue jadian sama Rama. Ok let's say not 'rama', let's just say 'AMP'. Gue masih inget kita jadian tanggal 27 Oktober, 2013. Waktu itu dia nyatain langsung perasaannya setelah salah satu event terbesar di sekolah selesai. Gue kaget----gue kira dia belum bisa move on dari gebetannya, Ghina. Ternyata dia bilang udah move on, setelah gebetannya jadian sama orang lain. Awalnya gue gak percaya, tapi gue takut dia gak bakalan ngasih kesempatan kedua, well, hari itu juga gue terima. Gue pikir lama kelamaan dia gak bakalan nyaman sama gue, karena gue pikir dia masih kebayang-bayang sama mantan gebetannya. Ternyata gue salah. Semakin hari dia malah makin romantis. Mengingat kita satu kelas, dan gue sama AMP jadi lebih sering berduaan, ketawa bareng dan belajar bareng. Duh, jadian sama gebetan yang kita suka gimana sih rasanya...
Itu yang gue rasain. Gak peduli seberapa sering gue sama dia adu bacot, tapi gue gak mau lepas sama dia. Dia bisa bikin gue nyaman, beda dari cowok yang lain. Kadang gue suka heran kenapa dia bisa nerima gue, gue kan jelek, gendut, bego. Apa yang mau dibanggain dari gue, gak ada. Gue kadang suka mikir, apa gue cuma dijadiin pelampiasan aja? Kalo misalnya Ghina putus dari orang itu, AMP bakalan mutusin gue juga? Supaya dia bisa deket sama Ghina lagi. Itu yang paling gue takutin, sampe gue pernah nanya ke dia apa bener gue cuma jadi pelampiasa aja, tapi dia bilang nggak, dia berani sumpah ngga sama sekali dan gak pernah kepikiran ataupun niatan buat ngelakuin itu.
Dia jadi semakin ganteng setelah jadian sama gue, jadi makin perhatian, makin asik diajak ngobrol, sering nganterin pulang, sering nemenin gue kalo ada rapat ini-itu dan rela nungguin gue di sekolah sampe sore karena ada rapat. AMP tuh.. beda. Gue gak tau gue bakalan terus sama dia sampe hubungan kita berdua lebih dari pacaran atau ngga. Tapi gue harap, AMP bisa dapetin cewek yang sepadan sama dia, yang bisa ngertiin dia, yang bisa nerima dia apa adanya, yang bisa support dia dan bakalan terus ada di samping dia dalam keadaan susah atau seneng. Entah itu cewek lain atau itu gue sendiri, gue gak tau.
Udah lebih dari 1,5 bulan gue sama AMP LDR-an. Sejauh ini masih biasa aja, meskipun ada gak nyamannya karena gak bisa setiap hari ketemu, gak bisa pulang bareng atau belajar bareng lagi, gak bisa makan bareng lagi, dan semakin terganggu karena Indonesia-Jerman beda 6 jam. Kadang kalo gue baru bangun, dia lagi sekolah, atau dia baru pulang sekolah. Kadang malah dia udah bangun, dan gue belum tidur sama sekali. Kadang salah satu diantara kita harus berkorban buat begadang, demi chat.
Hubungan kita malah makin rumit karena handphone gue gak berfungsi di luar negeri, dan gue harus beli handphone baru dan belum punya cukup uang buat beli yang baru. Itu malah bikin kita jadi jarang chat, kadang sehari cuma chat just say good morning atau good night, have a nice dream, have a nice day, or just saying I can't sleep, atau I miss you, atau I love you. Just like that. Simple, tapi gak pernah bikin gue bosen sama dia. AMP selalu bisa bikin gue makin kangen sama dia dan makin sayang sama dia, dengan jarak yang sejauh ini, tapi cinta gue ke dia gak luntur.
Gue gak tau AMP udah punya cewek lain yang dia taksir lagi atau ngga. Tapi kalo misalnya dia udah punya, gue gak bakalan nyesel kok. Itu emang udah resiko gue ninggalin dia. Gue udah siap hari itu bakalan dateng, pas dia bilang dia udah nemuin yang baru, yang lebih baik dari gue, dan gue udah siapin mental buat hal-hal semacam itu. Gue bahagia kok dia bisa bahagia tanpa gue.Untuk apa dia sama gue pacaran kalo emang cuma bisa bikin kita berdua saling sakit dan mengharapkan kapan kita ketemu, dan itu gak pasti.
Kadang gue suka iseng nanya dia di Ask.fm seputar hubungan gue sama dia dan seputar LDR dengan nama gue dianonim. Jawabannya dia selalu bilang gak pernah bosen, dan waktu gue tanya '*nama gue* pacar lu?' dan dia jawab 'sekarang sih masih jadi pacar, entar jadi pendamping hidup gue kok.' atau pas gue tanya 'udah punya pacar?' dan dia jawab 'udah kok, cantik lagi. :)'
Apa yang dia lakuin selalu bikin gue makin sayang dan makin cinta sama dia. Makin gak mau lepas dari dia. Tapi sampe kapan kita berdua harus bertahan kayak begini? :')




"Kalau kamu benar mencintainya, kamu akan rela menunggunya sampai kapanpun. Tapi jika dia memang benar mencintaimu, dia tak akan membuatmu menunggu..."

Ich hab dich lieb, my other half.. 


Sunday, September 15, 2013

Kisah Cinta yang Rumit

Selamat malam pembaca blogger J di malam minggu yang cerah ini gue mau curhat tentang hati gue yang lagi sakit nih… haha (ucapin GWS dong! (•̯͡.•̯͡)  )
Kenapa sih? Kok sakit? Sakit, ya sakit. Gara-gara jatuh cinta. Yaa namanya juga jatuh ya, pasti sakit.
Ceritanya begini, setelah naik-naikan kelas dan gue masuk ke jurusan yang gue inginkan (yeay!), gue sekelas sama seorang cowok yang namanya sebut aja Rama. Rama ini anaknya rajin, gokil, dan manis…
Awalnya gue biasa aja sama Rama. Dan gue juga biasa aja sama kelas gue, malahan gue lebih sering ngumpul dan nongkrong bareng sama temen-temen kelas sepuluh gue dulu. Abisnya kelas gue awalnya gak asik, anaknya pada rajin-rajin, jadi bete deh kalo gue gak ngerjain tugas, nanti gak ada temennya. Haha t(-_-t).
Nah, balik lagi ya ke Rama. Setelah lama kelamaan gue kenal dia, deket sama dia, gue makin jatuh hati sama dia. Dia orangnya asik banget, easy-going, friendly sama siapa aja. Dia gak ngerokok, gak minum, gak ngobat, gak cabul, rajin belajar dan rajin shalat, cinta banget sama futsal, pokoknya idaman banget deh.
Nah pada suatu hari, gue dan teman-teman sekelas lagi belajar Biologi. Di pelajaran yang super ribet ini (gurunya yang ribet), kami dibagi jadi beberapa kelompok buat ngelakuin praktikum. Kelompok-kelompok inilah yang bakalan terus-terusan bersama-sama ngelakuin praktikum di lab Biologi, ngerjain pre-test atau pass-test satu meja, dan ngebuat laporan yang ditulis tangan super-ribet bersama-sama. Kebetulan banget, pas dibagi kelompok, gue satu kelompok sama dia. Sumpah betapa girangnya hati gue saat itu. Tapi, waktu itu belum ada yang tau sama sekali tentang perasaan gue ke Rama, termasuk sahabat-sahabat gue yang dari kelas sepuluh, sahabat-sahabat sepanjang masa gue (sahabat-sahabat di SMP), dan termasuk temen sebangku gue, sebut aja Fani.
Fani tau gue lagi suka sama seseorang, tapi dia gak tau siapa dan gue juga gak mau kasih tau kalo gue suka sama Rama. Parah banget pokoknya kalo sampe Fani tau gue suka sama Rama!
Hmm, semakin hari perasaan gue ke Rama makin jadi, terus Rama jadi sering nge-bbm atau nge-sms gue duluan, tujuannya? Buat curhat. Pernah dia ngasih pernyataan yang bikin gue sakit hati banget, gara-gara gue ngomong gini:
“Gue liat-liat kayaknya Dio jadi sering modusin Ghina nih.”
“Iya nih Rif, gue juga sering liat, Dio jadi sering caper ke Ghina
(́_̀)
“Hah? Oh, Rama cemburu ya, Dio sama Ghina?”
“Hmmm yaa gitu deh Rif!”
“Cieee Rama cemburu Ghina dideketin Dio (σ ¯¯)
“Hahaha iya nih Rif, jadi khawatir… (́_̀)
“Ngapain khawatir? Dio mah semua cewek emang dimodusin Ram! Ghina pasti mau deh sama lo.” [(sebenernya ini gak ikhlas)]
“Sebenernya dari sebelum Dio modusin Ghina, gue udah deket duluan sama Ghina, Rif.”
“Emang sejak kapan lo deket sama Ghina?”
“Hmm udah lumayan lama Rif, sejak kelas X semester II.”
“BBM-an aja?”
“Iya, BBM-an aja.”
“Cieee hahaha good luck ya Ram! Semoga cepet jadi sama Ghina! Hehe”
“Amiiiin (˘ʃƪ˘) semoga lo juga ya Rif, cepet jadian sama orang yang lagi lo kodein *ehh haha”
“Amiiin! Haha”
……..
 
Padahal hati gue sakit banget pas dia ngaku kalo dia suka sama Ghina. Ghina, temen SMP gue yang juga sekelas sama gue. Anaknya emang keliatannya polos, pinter, baik. Ternyata itu semua cuma topeng. Dia sok polos. Aslinya dia gak polos, dia cuma pura-pura polos. Kenapa gue tau? Yaa karena gue kenal dia udah lama! Gue gak akan ngumbar aibnya di sini, gak penting juga. Cih.
Sebenernya gue gak rela banget Rama suka sama Ghina, maksud gue, kenapa dia bisa suka gitu sama Ghina? Padahal Ghina kan biasa aja, gak cantik-cantik amat, tapi kenapa dia bisa suka? Kenapa dia gak suka sama yang lain aja, yang lebih bener gitu, yaa meskipun bukan sama gue, it’s okay. Selama dia suka sama orang yang tepat.
Hari demi hari berlalu lagi. Temen sekelas gue yang tomboy, sebut aja namanya Vira. Dia deket sama banyak cowok, temen mainnya rata-rata cowok, dan gayanya juga kayak cowok. Waktu itu, Vira ngobrol sama gue pas jam Olah Raga. Dia bilang, kayaknya Ghina sama Ferry, saling suka. Habisnya mereka sering BBM-an, sering berduaan. Tapi gue gak begitu yakin Ferry sama Ghina saling suka, habisnya, Ghina kan deket sama banyak cowok juga! Dia aja sering BBM-an sama Rama. Siapa tau, Ghina sukanya sama Rama, bukan sama Ferry.
Ferry ini anaknya lumayan ganteng, dia aktif di beberapa ekskul dan dia aktif di OSIS juga. Gak heran kalo banyak cewek yang nyantol sama dia. Sayangnya, dia tukang modus. Emang, dibandingkan Rama, tampangnya Ferry menang, tapi, kalo sifat, I prefer Rama.
By the way soal Ferry, sahabat gue, sebut aja Anisa, suka sama Ferry, udah lamaaaa banget, mungkin sejak pertama kali gue, Anisa, dan Ferry aktif di satu ekskul yang sama. Dan itu udah lama banget, yaa kira-kira kelas X semester I. Sayangnya, Ferry sampe sekarang gak pernah peka maupun peduli tentang perasaan Nisa ke dia. Padahal, Nisa udah mengorbankan banyak hal ke Ferry, tapi Ferry emang gak peka. Gue juga kalo jadi Nisa gak akan tahan suka sama orang kayak Ferry. Semua cewek cantik dideketin, siapa yang gak kesel coba, ‘suka’ malah jadi ‘duka’.
Anisa sering banget curhat ke gue tentang Ferry, gimana Ferry nyuekin dia, gimana dia ngangenin Ferry, dan kadang gue bingung, kalo gue dukung Rama buat jadian sama Ghina, gue yang sakit. Tapi kalo gue dukung Ferry buat jadian sama Ghina, nanti Nisa sama Rama yang sakit.
Pernah suatu hari, Oliv, temen deketnya Ghina, diajak ngomong sama Fani. Fani tau kalo Rama suka sama Ghina, dan dia juga mau bantuin Rama biar jadian sama Ghina. Tapi, Oliv, malah dukungnya Ferry sama Ghina. Oliv bilang, setiap Rama nge-BBM Ghina, paling di endchat sama Ghina, kalo gak dibalesnya lama. Oliv juga bilang, Ferry sama Ghina deketnya udah lama, sekitar 8 bulan, dan Oliv juga gak mau mereka kelamaan PDKT. Mereka berdua harus jadian, segera.
Ngedenger percakapan Oliv sama Fani, itu malah bikin gue sakit hati. Kenapa mesti Rama yang sakit hati? Diem-diem, gue nangis. Tapi gue tetep gak mau nyatain perasaan gue yang sebenernya ke Rama. Gue juga gak mau ngungkapin perasaan gue kesiapapun. Gak mau ada yang tau, kecuali gue, sama Allah.
Beberapa hari kemudian, Fani nanya ke gue: “Rif, sebenernya lo lagi suka sama siapa sih? Richard?” “Hmm, bukan.” “Terus siapa? Anak sini juga?” “Iya.” “Anak kelas ini?” “Hmm gak tau deh.” “Ah serius lo ah, siapa sih? Rama ya?” “Ih apasih, bukan!” “Alaaah, iya aja kan, Rama?” “Bukan, ih” “Terus siapa dong? Dio?” “Idih apa sihh.” “Ayo dong kasih tau, masa lo gak ngasih tau sih, gue janji deh gak bakalan ngasih tau siapa-siapa.” Akhirnya, gue terpacu juga buat ngomong tentang perasaan gue yang sebenernya. Habisnya gue udah gak tahan! Apalagi, gue ngeliat Fani sama Rama malah jadi sering BBM-an, terus, Fani manggil Rama “sayang”, siapa yang gak cemburu coba! Huh, yaudah gue terpaksa buat bilang “Hmm tapi janji ya, jangan kasih tau kesiapa-siapa, termasuk anak-anak kelas ini, apalagi ke orangnya!!” “Iya, iya, emang siapa?” “Hmm tebakan lo bener.” “Hah? Siapa? Dio?” “Bukan!!” “Oh, Rama???” “Iya…” “Nah kan bener, lo suka sama Rama. Yaudah, lo tau kan, Rama sukanya sama siapa?” “Iya, gue tau. Makanya gue gak berani ngungkapin perasaan gue.” “Tapi, Ferry sama Ghina udah hampir jadian.”
Dan kata-kata Fani itu bener, dua minggu kemudian, Ferry sama Ghina jadian. Rama gak tau, Nisa gak tau. Gue aja tau sendiri. Dari sikap mereka yang berubah, lebih sering berduaan. Gue kasian sama Rama. Dia untuk ngomong sama Ghina aja masih keringet dingin, gimana mau jadian. Ternyata, Ghina malah di ambil duluan… L

Sedih jadi Rama. Dia baik, banyak cewek yang mau sama dia. Dianya aja yang terlalu sibuk, dan terlalu terpaku sama satu orang, padahal disekitarnya, ada satu orang yang tulus sayang sama dia.